Old town… Old Town… Pekik sang supir seperti sudah hapal banyak penumpang yang akan turun. Beberapa pelancong pemanggul ransel bergegas turun. Saya pun mengekor di belakangnya. Bangunanbangunan kuno bercat merah tadi adalah penanda paling mudah bahwa Anda telah tiba di kota tua Melaka. Usai turun saya berhenti sejenak sambil menyapukan pandangan. Suasana cukup ramai. Pelancong terlihat hilir mudik ataupun dudukduduk dibawah dua pohon besar yang mememayungi. Inilah Red Square, jantung kehidupan kota tua Melaka.

Terlihat air mancur klasik bergaya Victorian yang dikelilingi taman bunga kecil ditengah lapangan berbentuk segitiga ini. Disudutnya bercokol menara jam kuno menjulang berwarna merah yaitu Tang Beng Swee Clock Tower (1886). Namun yang paling mencuri perhatian tentu saja hallmarknya Melaka, Christ Church Melaka. Gereja berarsitektur khas negeri kincir angin yang dibangun selama 12 tahun (1741-1753) serta gedung Stadhuys, bekas kantor Gubernur Jenderal Belanda yang kini telah dikonversi menjadi museum sejarah dan etnografi. Kedua bangunan merah ini berdiri persis di depan alun-alun yang sepanjang hari tak pernah sepi ini.

Suasana Red Square menampilkan arsitektur yang membuatnya mirip seperti di Eropa. Sejarah memang mencatat bangsa barat pernah menguasai Melaka ratusan tahun. Tercatat ada 3 bangsa yang bergantian menjajah Melaka. Diawalai dengan kejatuhan Kesultanan Melaka di tahun 1511, Portugis masuk dan memerintah selama 150 tahun. Belanda kemudian gantian mencaplok di tahun 1641. Sempat berkuasa selama 154 tahun.

Kekuasaan kemudian beralih ke Inggris sejak tahun 1824 melalui perjanjian pertukaran koloni. Sebelum akhirnya sepenuhnya menjadi bagian dari Malaysia. Selat Melaka yang menjadi nadi perdagangan dunia barat dan timur membentuk Kota Melaka sebagai testimoni hidup akan sebuah kota pertemuan budaya dimana tradisi timur (Arab, India, Tionghoa serta Melayu) bercampur dengan kultur barat. Wajah multikultural yang telah lama bersemayam itu hadir melalui bangunan-bangunan lawas yang masih mengendap dan terjaga keasliannya. Keagungan itu dipanggungkan kembali oleh otoritas Malaysia. UNESCO pun telah menganugerahinya sebagai kota warisan dunia di tahun 2008.

Penginapan Murah di Melaka
Melaka sebagai kota tujuan turis di Malaysia tentunya memiliki penginapan yang mudah di jangkau. Disekitar sana terdapat beragam penginapan seperti La Boss Hotel Melaka, Imperial Heritage Hotel Melaka, Estadia Hotal, Hatten Hotel Melaka dan Venus Boutisue Hotel. Hotel tersebut memiliki harga dan fasilitas yang beragam.

Kali ini hotel yang saya pilh adalah Venus Boutisue Hotel, fasilitasnya lengkap dan kenyamananya sangat memanjakan tamu. Harga semalam Venus Boutisue Hotel hanya 350ribu rupiah saja. Jika teman-teman ingin hemat dalam masalah penginapan, sebaiknya pilih hotel ini.

Mesin genset diesel khusus untuk hotel dimiliki Venus Boutisue Hotel, sehingga tamu yang menginap merasa nyaman sepanjang hari meskipun sedang lampu mati. Hebatnya lagi, genset yang digunakan ini tidak menghasilkan suara yang besar saat digunakan, jadi tidak menganggu tamu yang menginap.

Apabila anda ingin tau genset terbaik untuk hotel dengan harga yang murah, kunjungi saja distributor mesin genset yanmar dikota anda.