originals.id – Kejahatan-kejahatan yang paling memungkinkan di media sosial antara lain penipuan, pemerasan, perekrutan oleh kelompok radikal, pelecehan, dan bullying. Mengapa kejahatan seperti ini bisa terjadi? Karena di media sosial tidak ada aturan. Media sosial juga mendorong orang berpikir jalan pintas (shortcut) dengan menuliskan status dalam kapasitas/ ruang terbatas, sehingga yang ia komunikasikan kepada orang lain adalah sisi afeksi bukan kognisi.

Lagi pula di media sosial tidak tersedia dewan redaksi atau gate keeper seperti umumnya di media massa yang bertugas menyaring dan meluruskan informasi. alamiahnya, media sosial memang memerangkap orang untuk mengandalkan pola pikir jalan pintas (shortcut) daripada proses berpikir yang komprehensif (rapi, terstruktur, dan mengarahkan orang untuk berhati-hati). pemikiran yang bersifat shortcut itulah yang d iyakini sebagai mekanisme psikologis yang sering terjadi dalam komunikasi di media sosial.

Proses mental berpikir yang shortcut ini sebenarnya sangat rawan bias. Contoh bias: menganggap orang itu jujur, bisa dipercaya, bukan pelaku kejahatan, dan sebagainya. Hal ini membuka celah besar bagi orang-orang tertentu untuk rentan mengalami viktimisasi (korban suatu kejahatan). Selain itu, adanya interaksi antara faktor situasi dan faktor kerentanan orang-orang tersebut akan menjadi pertemuan yang ideal bagi suatu kejahatan.

3 Kelompok Korban

Sebuah teori klasik mengatakan bahwa ada 3 kelompok individu yang rentan menjadi korban (viktimisasi) yaitu; (1) anak-anak, (2) perempuan dan (3) orang dengan tingkat kecerdasan rendah. Benang merahnya, karena mereka dianggap dalam masyarakat (ataupun oleh diri mereka sendiri) sebagai pihak yang inferior, mudah terkena sugesti atau lebih mudah tersentuh afeksinya ketimbang kognisinya.

Jika afeksi atau perasaan lebih tersentuh maka akan lebih mudah perilakunya dimanipulasi. Jadi , jika unsur perasaan atau afeksi bisa dipikat, maka di saat yang sama terjadi proses mental berpikir yang shortcut, sehingga rentan jadi korban kejahatan. pelaku kejahatan dalam kasus seperti di atas, menangkap sisi kerapuhan korban atau menangkap sisi kompleksitas kehidupan keluarga. Umumnya pelaku kejahatan ini adalah orang yang memiliki grooming behavior.

Artinya, apa yang dilakukan pelaku kejahatan ini bertujuan untuk mengeksploitasi tanpa pencitraan secara fisik, tidak menggunakan kekerasan fisik, tidak ada caci maki, dan sebagainya. perilakunya seolah menawarkan kehangatan, perlindungan, kasih sayang agar anak/korban percaya. Jika anak/ korban sudah percaya maka akan lebih mudah mengeskploitasi dan memanipulasinha.

Inilah modus yang paling andal dilakukan pelaku sampai-sampai anak/korban tanpa sadar telah menjadi korban. Terkait dengan kasus inilah kami mengundang Mama papa untuk lebih meningkatkan kewaspadaan penggunaan media sosial oleh buah hati. Untuk caranya, silakan baca halaman-halaman berikut ini .