generasimaju.com – Polisi memang sudah berhasil membekuk tersangka pelaku online child pornography yang berstatus manajer perusahaan dan dosen lembaga profesi di Surabaya. Tapi rasa marah terhadap kejahatan yang dilakukannya belum bisa reda. Si tersangka pelaku ini amat lihai merayu korban anak-anak untuk mengirimkan foto mereka, mulai dengan pakaian lengkap hingga kemudian bugil.

Parahnya lagi, pelaku men-share dan mengunggah foto bugil anak-anak yang dikibuli lewat akun Facebook-nya. akhirnya pelaku tertangkap dan dijerat dengan ancaman hukuman paling lama 12 tahun dan/atau denda paling banyak Rp 6 miliar. Hukuman akan ditambah 1/3 dari maksimum ancaman pidana karena melibatkan anak-anak sebagai korbannya.

Keamanan Media Sosial

Menurut aturan resminya, akun media sosial seperti Twitter dan Facebook hanya bisa dimiliki oleh mereka yang sudah memiliki alamat e-mail. Nah, untuk bisa memiliki alamat e-mail ada syarat usia minimal, yaitu usia yang sudah dianggap dewasa. Namun kenyataannya, anak-anak usia SD sudah punya akses ke situ dengan cara memalsukan data tahun kelahiran atau memakai alamat e-mail orangtuanya sebagai user ID mereka.

Sayang, masih banyak orang yang menganggap media sosial atau dunia maya ini suatu lingkungan yang lebih aman daripada lingkungan fisik yang nyata. anggapan ini muncul karena di media sosial ini tidak ada tuntutan pertemuan secara lahiriah dan tidak ada kekerasan secara fisik. Hal itu memang benar.

Namun di sisi lain, kekerasan seperti teror, ancaman, manipulasi di situ sangatlah luar biasa. apalagi regulasi di media sosial amat minim. Karena itulah, orangtua seharusnya mencipt akan kesepakatan bersama anak mengenai aturan main dan etika di media sosial. termasuk apa yang perlu anak waspadai saat berada di dunia maya.